Laki-laki yang menggigil

Jam 4 sore, tapi terlihat lebih gelap dari biasanya. Mendung ini sepertinya akan menumpahkan hujan besar. Aku telah membuat keputusan untuk pulang dari rumah saudaraku, karena ada hal penting yang menungguku di kontrakan. Aku tak membawa mantol. Ini menandakan bahwa aku belum cukup dewasa. Kata seorang teman, dewasa itu ketika membawa mantol ataupun payung ke manapun saat musim hujan. Kupikir, semua yang aku pakai pada hari itu sudah saatnya untuk dicuci, jaketku, rokku dan sendal kesayanganku. Jadi aku siap untuk berhujan-hujanan. Tetapi tetap saja aku rapatkan kancing jaketku, kurapatkan kaca helm hingga benar-benar menutup muka. Aku harus fokus berkendara. Belum mencapa 1/4 jalan, benar saja hujan turun tanpa basa-basi. Deras seketika. Awalnya hanya bagian depan jaketku yang basah, lalu meresap dan air hujan membasahi baju di dalam jaketku dan aku merasakan airnya mulai menetes, mengalir lalu bercampur jadi satu dengan badanku (jangan mikir yang enggak-enggak). Tubuhku mulai menggigil, melihat betapa nyamannya pengendara lain yang menadahi air hujan sama banyaknya denganku, tetapi mengenakan mantol, tak semenggigil aku, tetapi tetap saja aku tak boleh terlihat kedinginan. Aku berusaha santai dan tetap bersemangat. Sesampai di lampu merah terakhir sebelum sampai di kontrakanku, aku harus menyalip banyak sekali mobil untuk bisa menepikan motorku di dekat lampu merah paling depan. Badanku terasa lebih hangat di samping sebuah truk besar. Truk gandeng besar yang membawa box-box dari kayu. Dari sudut mata kiriku tampak bayangan sedang memandangiku. Itu pasti karyawan yang ikut bersama sopir. Eh tunggu dulu, bukannya truk nya tak ada penutupnya, lalu aku melihat ke arah bayangan itu. Di sana berdirilah seorang anak laki-laki, seumuran adikku. ya kira-kira kelas 2 SMA, berdiri menempel di bagian belakang kepala truk. Aku melihat ke belakang, sama sekali tak ada tempat berteduh di atas truk itu. Sepatu dan celana yang ia kenakan telah basah merata, kaos singletnya ia gunakan untuk menutupi tas yang ia gendong di depan, lengan bajunya yang buntung memperlihatkan lengannya yang sesekali tampak menggigil. Mau ke mana kamu si dek. Dilihat dari wajahnya ia tampak masih sangat muda, jadi kemungkinan dia bukan karyawan, dan aku menebak-nebak apakah dia seorang anak yang kebetulan numpang di truk, aku tak tahu dia mau ke mana tetapi sepertinya dia membutuhkan jarak yang dekat dengan sopir untuk berkomunikasi jika ia telah sampai pada tepat tujuan.

Aku melihat ke diriku, aku yang tadinya sempat mengeluh seharusnya masih harus bersyukur, meskipun bajuku basah kuyup kedinginan, tetapi dalam hitungan menit aku bisa sampai di kontrakan, aku sudah membayangkan mandi hangat lalu meringkuk di kasur. Tetapi bagaimana dengan anak itu, apa dia punya tempat untuk berteduh di tempat yang ia tuju. Lampu hijau, truk melaju, dan aku berbelok ke jalan yang aku tuju. Jarakku dengan truk itu telah jauh, tetapi bayangan anak laki-laki yang menggigil tadi masih melekat di pikiranku. Semoga ia sampai dengan selamat. Apabila ternyata dia hendak bersekolah, semoga sekolahnya lancar. Doa dari kakak dek.

Advertisements

Published by

peniwiasih

Activity : Student (Universitas Gadjah Mada), Journal Editor (Journal Of Fisheries Science UGM) Interest : Archery, Plankton Research, BTS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s