Berbuat baik jangan setengah-setengah, tersenyum jangan ragu-ragu

Pernahkah teman-teman menjumpai seseorang yang mengalami kesulitan, kemudian teman-teman berniat untuk membantu, tetapi tidak jadi karena orang itu keburu pergi, atau ada orang lain yang keburu membantu terlebih dulu. Sekarang coba posisikan diri kita sebagai orang yang sedang mengalami kesulitan, apabila ada orang yang membantu kita, pasti bahagia dan sangat berterimakasih kan rasanya. Buang rasa malu atau gengsi ketika hendak menolong orang lain, berbagi itu indah dan membuat hati kita menjadi tenang dan lebih bersyukur.

Teman-teman lebih suka mana, dicuekin atau disenyumin, pasti lebih suka disenyumin kan, baik sama orang yang teman2 kenal, atau pun orang yang baru dijumpai. Teman2 jangan ragu jika hendak menyapa orang sekitar, sapalah dengan lantang dan tersenyumlah, mereka akan merasa dihargai dan energi positif dari senyum sapa kita akan menular kepada mereka. Lalu apakah efeknya jika kita tersenyum dan menyapa orang asing? Tentunya suasana hati mereka akan cair dan luluh, mereka menjadi tidak segan untuk bertukar informasi dengan kita. Jadikan setiap momenmu bermanfaat, termasuk salah satunya bertukar informasi dengan orang baru.

Selamat berbuat kebaikan dan selamat tersenyum.

Berperilaku santun terhadap sesama

Yogyakarta, 17 Juni 2017

Sore ini aku sedang duduk di sudut terminal, menunggu bis dan mengamati orang yang lalu lalang di terminal. Tidak terasa, ramadhan sudah sampai di penghujung bulan, apakabarnya dengan kualitas ibadah ya, apakah meningkat atau justru mengendur?

Menjelang lebaran memang identik dengan mudik, aku sendiri juga mau mudik dengan bis lagi, sendiri lagi seperti tahun sebelumnya. Jadi curcol, padahal bukan ini yang hendak kuceritakan.

Sambil aku menunggu bis biasanya aku mengamati keadaan di sekitaran terminal. Ada banyak sekali manusia dengan berbagai profesi di sana. Ada sopir, kondektur, pedagang, tukang ojek, informan, mereka semua sedang berusaha menjemput rizky. Ada juga penumpang yang sedang berusaha memenuhi kebutuhannya sehingga dapat sampai di tempat tujuan.

Dari hasil pengamatan saya di terminal jogja, ada banyak tipe informan, ada yang memang hanya memberi informasi, ada yang memang mengarahkan sekaligus meminta kita untuk membawakan barangnya, informan jenis ini biasanya memang meminta imbalan jasa seiklasnya. Di tulisan ini saya cuman mau kasih saran, jika Anda bepergian lewat terminal dan ditanya oleh informan sebaiknya jawablah dengan tegas dan santun, rasanya tu sedih banget pas ngeliat informan dicueki oleh penumpang, boro2 menjawab pertanyaan, noleh aja enggak. Bukankah lebih baik jika ditanya menjawab dengan baik dan tegas entah anda sudah menguasai lokasi terminal atau belum. Apabila ditawari untuk dibawakan barangnya silakan anda putuskan, apabila ingin beramal biarkanlah barang anda dibawakan oleh mereka, apabila anda punya alasan lain, maka pegang erat barang bawaan anda.┬áLet’s care for each other.

Laki-laki yang menggigil

Jam 4 sore, tapi terlihat lebih gelap dari biasanya. Mendung ini sepertinya akan menumpahkan hujan besar. Aku telah membuat keputusan untuk pulang dari rumah saudaraku, karena ada hal penting yang menungguku di kontrakan. Aku tak membawa mantol. Ini menandakan bahwa aku belum cukup dewasa. Kata seorang teman, dewasa itu ketika membawa mantol ataupun payung ke manapun saat musim hujan. Kupikir, semua yang aku pakai pada hari itu sudah saatnya untuk dicuci, jaketku, rokku dan sendal kesayanganku. Jadi aku siap untuk berhujan-hujanan. Tetapi tetap saja aku rapatkan kancing jaketku, kurapatkan kaca helm hingga benar-benar menutup muka. Aku harus fokus berkendara. Belum mencapa 1/4 jalan, benar saja hujan turun tanpa basa-basi. Deras seketika. Awalnya hanya bagian depan jaketku yang basah, lalu meresap dan air hujan membasahi baju di dalam jaketku dan aku merasakan airnya mulai menetes, mengalir lalu bercampur jadi satu dengan badanku (jangan mikir yang enggak-enggak). Tubuhku mulai menggigil, melihat betapa nyamannya pengendara lain yang menadahi air hujan sama banyaknya denganku, tetapi mengenakan mantol, tak semenggigil aku, tetapi tetap saja aku tak boleh terlihat kedinginan. Aku berusaha santai dan tetap bersemangat. Sesampai di lampu merah terakhir sebelum sampai di kontrakanku, aku harus menyalip banyak sekali mobil untuk bisa menepikan motorku di dekat lampu merah paling depan. Badanku terasa lebih hangat di samping sebuah truk besar. Truk gandeng besar yang membawa box-box dari kayu. Dari sudut mata kiriku tampak bayangan sedang memandangiku. Itu pasti karyawan yang ikut bersama sopir. Eh tunggu dulu, bukannya truk nya tak ada penutupnya, lalu aku melihat ke arah bayangan itu. Di sana berdirilah seorang anak laki-laki, seumuran adikku. ya kira-kira kelas 2 SMA, berdiri menempel di bagian belakang kepala truk. Aku melihat ke belakang, sama sekali tak ada tempat berteduh di atas truk itu. Sepatu dan celana yang ia kenakan telah basah merata, kaos singletnya ia gunakan untuk menutupi tas yang ia gendong di depan, lengan bajunya yang buntung memperlihatkan lengannya yang sesekali tampak menggigil. Mau ke mana kamu si dek. Dilihat dari wajahnya ia tampak masih sangat muda, jadi kemungkinan dia bukan karyawan, dan aku menebak-nebak apakah dia seorang anak yang kebetulan numpang di truk, aku tak tahu dia mau ke mana tetapi sepertinya dia membutuhkan jarak yang dekat dengan sopir untuk berkomunikasi jika ia telah sampai pada tepat tujuan.

Aku melihat ke diriku, aku yang tadinya sempat mengeluh seharusnya masih harus bersyukur, meskipun bajuku basah kuyup kedinginan, tetapi dalam hitungan menit aku bisa sampai di kontrakan, aku sudah membayangkan mandi hangat lalu meringkuk di kasur. Tetapi bagaimana dengan anak itu, apa dia punya tempat untuk berteduh di tempat yang ia tuju. Lampu hijau, truk melaju, dan aku berbelok ke jalan yang aku tuju. Jarakku dengan truk itu telah jauh, tetapi bayangan anak laki-laki yang menggigil tadi masih melekat di pikiranku. Semoga ia sampai dengan selamat. Apabila ternyata dia hendak bersekolah, semoga sekolahnya lancar. Doa dari kakak dek.